Senin, 22 April 2013

Karangan

1. Definisi
Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami.


2. Macam-macam karangan, ciri-ciri, dan contoh:



  • Narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir.

         - Ciri-ciri:

  1. Terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu.
  2. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik.
  3. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi.
  4. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur.

        - Contoh:

          Aku tersenyum sambil mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, membuat tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, mencoba memerangi rasa dingin yang terasa begitu menyiksa.
Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku ketika Eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak akan kurindui ketika aku telah kembali ke tanah air. Tapi wajah ayu di hadapanku, akankah kurindui juga?
Ada yang berdegup keras di dalam dada, namun kuusahakan untuk menepiskannya. Jangan, Bowo, sergah hati kecilku, jangan biarkan hatimu terbagi. Ingatlah Ratri, dia tengah menunggu kepulanganmu dengan segenap cintanya.
            



  • Deskripsi adalah salah satu kaedah upaya pengolahan data menjadi sesuatu yang dapat diutarakan secara jelas dan tepat dengan tujuan agar dapat dimengerti oleh orang yang tidak langsung mengalaminya sendiri.
        - Ciri-ciri:

           1. Menggambarkan atau melukiskan sesuatu.
           2. Penggambaran tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan melibatkan kesan indera.
           3. Membuat pembaca atau pendengar merasakan sendiri atau mengalami sendiri.




        - Contoh:
          Masih melekat di mataku, pemandangan indah nan elok pantai Parang Tritis. Gelombang ombak bergulung-gulung datang silih berganti menyambutku serasa ingin mengajak bermain. Air yang jernih dan pasir putih lembut yang menghampar luas tanpa ada tumbuh-tumbuhan atau karang yang menghalangi membuatku ingin kembali lagi. Di sebelah kanan-kiri, aku bisa memandang air laut sejauh mata memandang, pandai dengan bukit berbatu, pesisir serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Kurasakan dingin membasuh kakiku karena ombah menghempas kakiku dan terasa asin air itu ketika bibirku terkena percikan. Sepanjang aku berjalan, hampir pinggiran pantai dipenuhi oleh pengunjung wisatawan. Kulihat ada yang berlari berkejar-kejaran di bibir pantai, bermain bola, bermain dengan air, berfoto-foto dengan latar sekitar pantai. Tapi yang paling membuatku tertarik, kulihat ada beberapa turis manca negara yang menikmati keindahan pantai ini dengan naik delman. Seperti apa yang aku lihat, pantai ini memang sangat ramai pengunjung. Tak pernah sunyi pantai Parang Tritis. 



  •  Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.


      - Ciri-ciri: 

        1.  Memaparkan definisi (pengertian)
        2. Memaparkan langkah-langkah, metode, atau cara melaksanakan suatu kegiatan.



      - Contoh: 

         Parangtritis adalah nama desa di kecamatan Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di desa ini terdapat pantai Samudera Hindia yang terletak kurang lebih 25 km sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di Yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup, Krakal dan Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung-gunung pasir yang tinggi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk. Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas Parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. Air panas dari parang wedang dialirkan ke pantai parangtritis untuk bilas setelah bermain pasir dan juga mengairi kolam kecil bermain anak-anak. Di Parangtritis ada juga ATV, kereta kuda & kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat. selain itu juga parangtritis sebagai tempat untuk olahraga udara/aeromodeling.


  • Argumentasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang ditulis dengan tujuan untuk meyakinkan atau membujuk pembaca. Dalam penulisan argumentasi isi dapat berupa penjelasan, pembuktian, alasan, maupun ulasan obyektif dimana disertakan contoh, analogi, dan sebab akibat.


       - Ciri-ciri:


         1. Menjelaskan pendapat agar pembaca yakin.
         2. Memerlukan fakta untuk pembuktian berupa gambar/grafik, dan lain-lain.
         3. Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman, dan penelitian.
         4. Penutup berisi kesimpulan.



       - Contoh:

          Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam.


  • Persuasi adalah suatu bentuk pengaruh sosial. Persuasi adalah proses membimbing diri sendiri atau yang lain terhadap adopsi ide, sikap, atau tindakan dengan cara rasional dan simbolik (meskipun tidak selalu logis).
       - Ciri-ciri:
         1. Persuasi berasal dari pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah. 
         2. Harus menimbulkan kepercayaan para pembacanya.
         3. Persuasi harus dapat menciptakan kesepakatan atau penyesuaian melalui
         4. Kepercayaan antara penulis dengan pembaca.
         5. Persuasi sedapat mungkin menghindari konflik agar kepercayaan tidak
         6. Hilang dan supaya kesepakatan pendapatnya tercapai.
         7. Persuasi memerlukan fakta dan data.



        - Contoh:
          Pantai Parangtritis memang memiki keindahan eksotis yang membuat wisatawan ramai berkunjung, tetapi juga sering menelan korban. Yang disayangkan, sebagian masyarakat Indonesia masih saja menganggap peristiwa tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis, yakni dikarenakan Ratu Pantai Selatan meminta tumbal. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut. Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan. Jadi, banyaknya korban tenggelam tidak ada kaitannya sama sekali dengan anggapan para masyarakat. Ali Susanto, Komandan SAR Pantai Parangtritis, juga menambahkan bahwa disepanjang Pantai Parangtritis juga banyak terdapat palung (pusaran air) yang tempatnya selalu berpindah-pindah dan sulit diprediksi. Kondisi inilah yang sering banyak menimbulkan korban mati tenggelam. Oleh karena itu, selayaknya warga masyarakat tidak lagi percaya hal-hal gaib dan bisa mengedepankan penalaran logika atau akal sehat. Pemerintah daerah pun sebaiknya memberikan pemahaman yang benar mengenai penyebab bencana laut kepada warga di sekitar pantai. Informasi tersebut dapat diteruskan kepada wisatawan guna meningkatkan kewaspadaan mereka. 


3. Definisi, ciri-ciri, serta contoh karangan ilmiah dan non ilmiah
  • Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. 
        - Ciri-ciri karangan ilmiah:
         1. Objektif.
Keobjektifan ini tampak pada setiap fakta dan data yang diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi. Juga setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, siapa pun dapat mengecek (memvertifikasi) kebenaran dan keabsahannya.
          2. Netral.
Kenetralan ini bisa terlihat pada setiap pernyataan atau penilaian bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kelompok. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
         3. Sistematis.
Uraian yang terdapat pada karya ilmiah dikatakan sistematis apabila mengikuti pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan cara demkian, pembaca akan bisa mengikutinya dengan mudah alur uraiannya.
         4. Logis.
Kelogisan ini bisa dilihat dari pola nalar yang digunakannya, pola nalar induktif atau deduktif. Kalau bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif; sebaliknya, kalau bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakan pola deduktif.
       5. Menyajikan Fakta (bukan emosi atau perasaan).
Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus faktual, yaitu menyajikan fakta. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang emosional (menggebu-gebu seperti orang berkampanye, perasaan sedih seperti orang berkabung, perasaan senang seperti orang mendapatkan hadiah, dan perasaan marah seperti orang bertengkar) hendaknya dihindarkan.
        6.  Tidak Pleonastis
Maksudnya kata-kata yang digunakan tidak berlebihan alias hemat. Kata-katanya jelas atau tidak berbelit- belit (langsung tepat menuju sasaran).
       7.  Bahasa yang digunakan adalah ragam formal.
      - Contoh karangan ilmiah: Skripsi, Tesis, Disertasi, dll.



  • Karangan non ilmiah
Karya non ilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum, ditulis berdasarkan fakta pribadi, umumnya bersifat subyektif, gaya bahasa biasanya abstrak  gaya bahasanya formal dan popular.


       - Ciri-ciri karangan non ilmiah:
       1. Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
       2. Persuasif: penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
      3. Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.
      4. Kritik tanpa dukungan bukti
     - Contoh karangan non ilmiah: Cerpen, Puisi, Novel, Komik, dll.

  •        Perbedaan Karya Ilmiah dengan Nonilmiah
Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis-menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek.
1. Karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau observasi.
2. Karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi.
3. Dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang dijadikan dasar para ahli bahasa dalam melakukan pengklasifikasian.
Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan semiilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki pendahuluan (preliminaris) yang tidak selalu terdapat pada karangan semiilmiah.
Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, feature, kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.
Karya nonilmiah sangat bervariasi topik dan cara penyajiannya, tetapi isinya tidak didukung fakta umum. Karangan nonilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya nonformal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis. Karya nonilmiah bersifat, antara lain :
1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi
2. persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative
3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan
4. Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Simpulan
Karangan merupakan karya tulis yang disusun berdasarkan kumpulan-kumpulan fakta ataupun tidak dan dirangkum dalam sebuah karya tulis dengan menggunakan metode tertentu sesuai kebutuhan karangan tersebut, apakah penulis akan membuat karangan ilmiah, semi ilmiah/populer atau non ilmiah.
Karangan yang baik akan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, antara lain :
1. Karangan Ilmiah Yaitu :
a. Sistematis
b. Objektif
c. Cermat, tepat, dan benar
d. Tidak persuasif
e. Tidak argumentatif
f. Tidak emotif
g. Tidak mengejar keuntungan sendiri
h. Tidak melebih-lebihkan sesuatu.
2. Karangan Semi Ilmiah/Populer :
a. Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa formal dan popular
d. Mementingkan diri penulis
e. Melebihkan-lebihkan sesuatu
f. Usulan-usulan bersifat argumentatif, dan
g. Bersifat persuasif.
3. Karangan Non Ilmiah :
a. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
b. Fakta yang disimpulkan subyektif
c. Gaya bahasa konotatif dan populer
d. Tidak memuat hipotesis
e. Penyajian dibarengi dengan sejarah
f. Bersifat imajinatif
g. Situasi didramatisir, dan
h. Bersifat persuasif.

  • Contoh Ilmiah Skripsi:

Skripsi Singkat tentang Narkoba di SMA


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia yang hidup dalam masyarakat tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Semenjak bangun tidur manusia secara kodrati senantiasa melakukan suatu komunikasi. Pengertian komunikasi itu sendiri secara etimologis berasal dari bahasa latin yaitu Communicatio, dan perkataan ini berasal dari kata communis yang berarti sama yaitu sama makna (lambang) mengenai suatu hal. 1 Sebagai contoh, jika dua orang terlibat dalam suatu pembicaraan dimana salah satunya menanggapi atau mengerti maksud dari pembicaranya. Sehingga, timbul adanya suatu timbal balik. maka, komunikasi ini berjalan dengan baik. Sedangkan secara terminologis komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain baik secara verbal (secara lisan ) maupun non verbal (simbol-simbol).
Komunikasi dapat terjadi apabila ada komunikator(orang yang menyampaikan pesan atau informasi) dan komunikan (orang yang mendapatkan informasi atau pesan). Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, emosi, ketrampilan dan sebagainya dengan menggunakan lambang-lambang atau kata-kata, gambar, bilangan, grafik dan lain-lain. Kegiatan atau proses penyampaiannya biasa dinamakan komunikasi.2 Dengan adanya komunikasi seseorang akan lebih mudah mendapatkan suatu informasi. Seperti halnya, dengan diadakannya kampanye anti narkoba yang dicanangkan oleh pemerintah baik secara verbal (dengan menggunakan bahasa) maupun komunikasi secara non verbal (menggunakan simbol atau tanda seperti lambang). Dalam komunikasi terdapat dua proses yaitu proses komunikasi secara primer dan proses komunikasi secara sekunder.3
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial (berkomunikasi melalui gerakan tubuh seperti mengedipkan mata), isyarat, gambar, warna, dan sebagainya, yang secara langsung ”menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Sedangkan proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Selain itu juga, keberhasilan komunikasi bukan hanya ditentukan oleh medianya saja akan tetapi keberhasilan juga ditentukan oleh peranan komunikator sebagai penyampai pesan. Pesan yang akan disampaikan itu hendaknya dapat lebih mengena khalayaknya. Seperti halnya kampanye anti narkoba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah salah satunya SMU X. Program ini difokuskan pada anak-anak remaja terutam a dikalangan anak-anak sekolah.
Sebelum membahas tentang kampanye anti narkoba terlebih dahulu membahas tentang kampanye itu sendiri. Pengertian kampanye secara umum yang telah dikenal sejak tahun 1940-an. Kampanye adalah menampilkan suatu kegiatan yang bertitik tolak untuk membujuk. Kesuksesan suatu kampanye dipengaruhi oleh seberapa banyak pesan kampanye itu disebarluaskan baik melalui media sekaligus. Kampanye tersebut dapat diterima oleh khalayak atau tida k tergantung dari isi pesan kampanye itu sendiri. Banyak juga persepsi yang berbeda-beda dari khalayak. Oleh karena itu, para pelaksana kampanye harus menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, yang dimana khalayak tersebut berbalik menentang sehingga mereka tidak akan mengikuti atau menjalankan isi dari pesan kampanye tersebut. Sering kali pelaksana kampanye tidak diterima oleh khalayak. Kegagalan seperti itu kerap kali terjadi. Dengan adanya kegagalan seperti itu bukan berarti problem yang dikampanyekan tidak dapat terpecahkan, mungkin strategi kampanye tersebut masih kurang tepat sehingga kurang mengena di mata khalayak. 4
Setelah mengetahui tentang kampanye kini maka penulis mencoba untuk menjelaskan tentang narkoba. Mungkin di era globalisasi ini sudah tidak heran lagi dengan adanya narkoba. Narkoba kini telah merajalela dimanamana. Narkoba ini telah diedarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebenarnya mereka tahu akan bahayanya narkoba. Akan tetapi, karena tergiur sejumlah uang yang begitu banyak pada akhirnya para pengedar tidak memperdulikan lagi akan bahayanya narkoba. Dan lebih parahnya lagi, mereka mengedarkannya kepada generasi muda baik di sekolah, kantor, kampus bahkan di jalan-jalan. Oleh karena itu, sebelum terjerumus ke dalam narkoba sebaiknya, perlu diketahui terlebih dahulu tentang apa itu narkoba.
Narkoba singkatan dari Narkotika dan Obatan-obatan terlarang. Istilah narkotika berasal dari bahasa Yunani Narkotikos, yang berarti menggigil. Ditemukan Kali pertama dari substansi-substansi yang dapat membantu orang untuk tidur. Narkotika atau obat bius yang bahasa Inggrisnya disebut ”narkotic” adalah semua bahan obat yang mempunyai efek kerja. Pada awalnya narkotika memiliki khasiat dan bermanfaat bagi ilmu kedokteran. Narkotika kemudian menjadi permasalahan karena akibat dari penyalahgunaan pemakaian, sehingga adanya motivasi lain untuk dijadikan komoditas ilegal oleh segolongan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.5
Lebih kurang 30% penduduk Indonesia adalah remaja yang berusia 10- 24 tahun. Selain merupakan potensi yang luar biasa bagi usaha -usaha pembangunan maka usia tersebut juga merupakan sasaran utama dalam penyalahgunaan narkoba. Hal tersebut akan menjadi runyam manakala kita ketahui bahwa kegiatan kejahatan narkoba adala h kegiatan yang tersusun rapi dan bersifat internasional yang beroperasi dengan sistem jaringan yang tertutup dan rahasia.6 Selain itu juga, banyak diantara para siswa masih belum paham akan bahayanya nakoba. Sehingga dengan mudahnya Mereka tertipu oleh bujuk rayu dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Menurut data Direktorat Pembinaan Kesehatan Pemprov Jatim, dari 400 kasus narkoba di Jatim yang terjadi selama XXXX, sebanyak 60 persen di antaranya adalah berusia 15-19 tahun. Seluruhnya adalah pelajar SLTP dan SMU.7
Maka dari itu, pihak sekolah mengadakan suatu kampanye untuk memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi mereka. Kampanye anti narkoba ini digalakkan karena adanya fenomena -fenomena yang telah melibatkan beberapa remaja bahkan siswa sekolah. Pengguna narkoba di kalangan siswa SMU di X ternyata cukup banyak dan ada yang berasal dari keluarga harmonis.
Penyebab utama yang paling dominan anak SMU terlibat narkoba adalah kepribadian yang rapuh. Penegasan itu dikemukakan Ketua Tim Peneliti Faktor-faktor Penyebab Siswa SMU Mengkonsumsi Narkoba, Lemlit Universitas Putra Bangsa (UPB) Murphy J. Sembiring, S.E., M.Si. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada bulan November -Desember XXXX. Dari 500 siswa SMU di X, 85 di antaranya adalah wanita. Dan semua responden yang diwawancarai adalah pemakai narkoba.8 Mendiknas juga mengungkapkan berdasarkan hasil penelitian penyalahgunaan narkoba pada siswa SMP, SMA, dan SMK yang dilakukan melalui tes urine di tiga kota yaitu DKI Jakarta, Bandung, dan Denpasar yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas bekerjasama dengan Pusat Laboratorium Terapi dan Rehabilitasi BNN pada XXXX menunjukkan bahwa dari sampel sebanyak 1.155 siswa terdapat 19 orang atau 1,6 persen diantaranya adalah penyalahguna narkoba.9 Tak jarang dari mereka yang telah meninggal dunia dikarenakan ”Overdosis”. Selain itu juga menurut M. Syamsul Muarif, program manajer Lembaga Studi Pembelajaran untuk Pencerahan (LSP2), dari 75 penderita positif HIV, 15 persen di antaranya kalangan remaja berusia 15-20 tahun. Remaja tersebut mengidap HIV positif karena menjadi pecandu narkoba. 10 Menurut Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia Zubairi Djoerban pada tahun XXXX ada 50 pasien baru HIV dalam sebulan, dan 80-90 persennya adalah pengguna narkoba dan termasuk siswa sekolah. Belum lagi resiko terkena hepatitis C, penyakit hati menahun, dan kanker hati yang akan berakhir dengan kematian. 11
Dengan adanya fenomena-fenomena yang seperti itu pihak pemerintah dan sekolah gencar mengkampanyekan anti narkoba dikalangan remaja. Disela-sela mengkampanyekan anti narkoba pihak pemerintah juga menggunakan teknik ganjaran (pay of Technique)12 yaitu kegiatan untuk mempengaruhi orang lain dengan cara menjanjikan hal-hal yang menguntungkan atau yang menjanjikan harapan. Misalnya, dengan cara memberi hadiah bagi siswa yang mengetahui dan mampu dengan segera memberitahukan kepada pihak berwajib atau pihak sekolah tentang adanya penjualan narkoba yang beredar dikalangan siswa dilingkungan sekolah mereka. Selain teknik ganjaran (pay of technique) biasanya juga menggunakan teknik ”pembangkit rasa takut” (Fear arousing), yaitu suatu cara yang bersifat menakut-nakuti atau menggambarkan konsekuensi yang buruk. Misalnya dengan cara memperlihatkan akibat yang ditimbulkan jika siswa menggunakan narkoba.
Untuk mengetahui seberapa besar pemahaman siswa terhadap kampanye anti narkoba ini, maka diperlukan adanya pertanyaan yang diajukan kepada siswa tentang materi yang telah disajikan oleh narasumber. Sebagai kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan (pemahaman) siswa dalam mencapai tujuan yang ditetapkan maka evaluasi hasil belajar memiliki sasaran berupa ranah-ranah yang terkandung dalam tujuan yang diklasifikasikan menjadi tiga yaitu rana h kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. 13
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang berhubungan dengan ingatan atau pengenalan terhadap pengetahuan dan informasi serta pengembangan ketrampilan intelektual. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Sedangkan Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan kemampuan untuk bertindak.
Jadi, dari pengertian pemahaman diatas dapat penulis simpulkan bahwa siswa dapat dikatakan paham apabila siswa mengerti serta mampu untuk menjelaskan kembali dengan kata-katanya sendiri tentang materi yang telah disampaikan oleh narasumber, bahkan mampu untuk menerapkan ke dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, lingkungan sekitar dan di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk meneliti sejauhmana siswa SMU di X paham tentang adanya suatu kampanye anti narkoba.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Adakah pemahaman siswa-siswi SMA X terhadap narkoba?.
2. Kalaupun ada sejauh mana pemahaman siswa-siswi SMA X terhadap narkoba?.

B. Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dari pada penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pemahaman tentang narkoba bagi siswa dan siswi SMU X terhadap kampanye anti narkoba.

C. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti untuk memperkaya ilmu pengetahuan tentang narkoba yang diharapkan agar bermanfaat bagi generasi yang akan datang.
2. Manfaat Praktis
Diharapkan mampu dijadikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan terhadap siswanya agar tidak salah langkah dalam menyingkapi keberadaan dan bahayanya narkoba terhadap siswa-siswanya yang berkembang di sekitar lingkungannya.

D. Definisi Operasional
Guna memperjelas arah pembahasan lebih lanjut serta untuk menguji dugaan yang mungkin benar dan salah dalam penafsiran perumusan masalah, maka berikut ini penulis paparkan kajian pengertian kampanye anti narkoba yang dianggap relevan dengan maksud dan tujuan penelitian ini.
1. Peranan
Menurut kamus bahasa Indonesia adalah fungsi.14 Dimana maksud peranan ini adalah bahwa kampanye anti narkoba sangat berfungsi untuk penambahan pemahaman siswa tentang narkoba.
2. Kampanye
Menurut kamus bahasa Indonesia adalah serentak mengadakan gerakan bisik- gerakan dengan jalan menyiarkan kabar angin kampanye. Menurut Rice dan Paisley menyebutkan bahwa kampanye adalah keinginan untuk mempengaruhi kepercayaan dan tingkah laku orang lain dengan daya tarik yang komunikatif.15
3. Anti
Menurut kamus bahasa Indonesia adalah menolak, melawan, dan menentang.16
4. Narkoba
Bahan zat baik secara alamiah maupun sintetis yaitu narkotika, psikotropika dan zat adiktif jika masuk ke dalam tubuh manusia tidak melalui aturan ke sehatan berpengaruh terhadap otak pada susunan pusat dan bila disalahgunakan bertentangan ketentuan hukum. 17
5. Pemahaman
Pemahaman dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pemikiran. Memahami maksudnya menangkap maknanya adalah tujuan akhir dari setiap belajar.18
6. Siswa
Murid, terutama pada tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. 19

E. Sistematika Pembahasan
Pembahasan ini terdiri atas lima bab antara lain yaitu:
BAB I : Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, dan sistematika pembahasan.
BAB II : Kajian teoritis berisi tentang peranan kampanye anti narkoba terhadap pemahaman siswa SMA X.
BAB III : Metode Penelitian berisi tentang pendekatan dan jenis penelitian, obyek penelitian, teknik sampling, variabel dan indikator penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data.
BAB IV : Penyajian dan analisis data yang berisi tentang gambaran umum obyek penelitian, penyajian data, pengujian hipotesis dan ana lisis, pembahasan hasil penelitian.
BAB V : Penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

  • Contoh Non Ilmiah Cerpen:


Buroq 

Cerpen: Ratih Kumala

Tak ada yang lebih aneh dari pada terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci dan mendapati dirinya penuh mengingat mimpi yang baru saja turun dalam lelap satu menit lalu; ia seorang bejat yang tak pernah salat- bermimpi bertemu Muhammad. Bagaimana bisa?

Inilah yang dikerjakannya setiap hari, bangun menjelang siang setelah malamnya menghabiskan berbotol-botol bir bersama teman-teman di depan kios tattonya. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu siapa nama aselinya. Semua orang memanggilnya Cimeng, tentu itu bukan nama aslinya. Kulitnya gelap dan dia menggambarinya dengan tatto berwarna-warni. Dia menyebutnya seni, teman-temannya menyebutnya keren, anak-anak ABG menyebutnya anak punk, sedang tetangga-tetangga yang sudah pasti tidak menyukai kios tattonya menyebutnya berandal.

Pencerita mimpi siang itu sangat baik pada dirinya. Tentu saja ia heran, dirinya yang selama ini menganggap dunia brengsek maka dia harus menjadi seorang brengsek pula, tiba-tiba menjadi orang terpilih yang bertemu Muhammad dalam mimpinya. Ia tak tahu apa artinya, tapi mimpi itu sangat jelas. Hanya ada satu yang tidak jelas; wajah Muhammad.

Telah 10 hari bulan Ramadhan, dan ia baru tiga kali benar-benar berpuasa. Siang saat ia bermimpi bertemu Muhammad adalah hari dirinya berpuasa untuk yang ketiga kalinya. Bukan karena merasa wajib, tetapi karena hari itu ia malas keluar dari rumah sewanya untuk membeli makanan. Hari itu diisinya dengan tidur dan baru terbangun saat aroma bunga menyeruak hidung bercampur denting gerimis yang membawa aroma tanah. Matanya terbuka, ia ngulet ke arah matahari datang. Jendela terbuka menyuguhkan pemandangan mozaik, sedikit linglung merasa tak pasti apakah itu pagi atau sore. Ia dibangunkan oleh mimpi yang aneh; lelaki itu penuh wibawa berdiri di atas buroq; kendaraan yang konon lebih cepat dari cahaya dan membawanya ke lapis langit ketujuh.

*
Saat terbangun, ia melihat pemandangan matahari kemerahan di balik jendela terbuka, gerimis, serta pohon kamboja di sebelah rumahnya yang bertetangga dengan kuburan kecil menyeruak aroma bunga merah muda. Ia mengingat-ingat, apakah saat itu pagi atau senja. Usianya baru tujuh tahun tapi ia sanggup berpuasa penuh. Ibunya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu menyapa dengan lembut, "Qatrun, salat asar dulu. Sebentar lagi magrib." Kini ia tahu, dirinya terbangun pada sebuah sore gerimis di bulan suci. Ia tak bergegas, mengingat-ingat mimpinya satu menit yang lalu. Sebuah mimpi yang jelas, hanya satu yang tidak begitu jelas; wajah Muhammad dalam mimpinya.

Sehabis berbuka puasa dan magrib lewat, Qatrun kecil mengambil sarung dan peci. Teman-temannya berteriak memanggil-manggil namanya di depan rumah, mengajak pergi ke surau berbarengan untuk tarawih. Kali ini setelah tarawih selesai ia tidak langsung pulang. Bahkan saat teman-teman merayunya dengan segenggam mercon yang disembunyikan di balik sarung untuk diledakkan di perempatan jalan, Qatrun tetap berada di surau dan menunggu sepi, ingin berbicara dengan Ustaz.
"Ustaz, aku bermimpi aneh."
"Mimpi apa?"
"Muhammad."
"Kau mimpi bertemu Muhammad?" ia harus mengakui ada rasa iri menyelip. Bahkan dirinya yang sudah berumur dan menganggap cukup taat belum pernah mimpi bersua Muhammad. "Bagaimana ia?"
"Ia berdiri di atas buroq dengan wajah yang tidak begitu jelas dan menatap ke arah kami."
"Kami?"
"Aku dan sekelompok orang. Tetapi mereka tidak ada yang percaya kalau dia Muhammad. Hanya aku dan seorang laki-laki beraroma minuman keras yang berdiri di sebelahku yang percaya."
"Lelaki beraroma minuman keras?" tanya Ustaz setengah sanksi. Qatrun mengangguk yakin, "seperti apa buroq?"
"Seperti sampan panjang,"
"Lalu bagaimana kau tahu Muhammad naik buroq, bukan naik sampan?"
"Aku tahu, Ustaz! Itu buroq, bukan sampan."
*

Menjelang magrib, laki-laki yang dipanggil Cimeng itu berjalan ke mini market dekat rumah sewanya dan membeli roti tawar untuk makan. Ia masih tetap mengingat-ingat mimpinya tadi. Ada sekelompok orang, namun hanya dirinya dan seorang bocah yang percaya bahwa lelaki yang berdiri di atas buroq itu adalah Muhammad. Usai makan dan mandi, tangannya tergerak. Ia mengambil jarum tatto dan mulai menggambar di lengannya. Sebuah sampan berwarna hijau dan sebuah lingkar di atas sampan berwarna kuning. Warna cahaya.
*

Qatrun tahu, minum keras itu beraroma seperti apa walaupun ia tak pernah menyentuhnya barang sedikit. Ia mengenali warna raut wajah memerah jika seseorang mabuk. Ia juga tahu bahwa minuman keras itulah yang menyebabkan ibunya memar-memar. Malam-malam saat ayahnya masih agak sering pulang ke rumah dalam keadaan teler, ibu selalu menunggu hingga tertidur di kursi panjang yang tak patut disebut sebagai sofa di ruang depan rumahnya yang kecil. Saat pulang, tak jarang ayahnya membawa aroma sangit keringat bercampur minuman keras, penat yang sangat, serta sedikit uang hasil menyupir truk. Itu bukan pemandangan baru bagi Qatrun. Jika ibu bertanya habis dari mana, tangan ayahnya melayang ke pipi ibu, meninggalkan bekas memerah. Sedang ia akan terbangun, mengintip dari balik tirai pintu. Hingga suatu hari ayahnya tak pernah kembali walaupun ibu masih menunggu pada malam-malam setelah isya' didirikan dan mengambil selembar bantal tipis untuk menyangga lehernya di kursi panjang di ruang tamu mereka yang kecil.

Di kamarnya yang kecil, Qatrun menggambar. Sebuah sampan panjang berwarna hijau terang, dan sebuah lingkar di atas sampan yang dikelir warna kuning. Warna cahaya.
*

Walau sekarang Ramadhan, dan Cimeng mengaku beragama Islam, ia tetap tidak puasa, tentu saja. Ia sedang menerima order tindik di lidah seorang anak usia SMA.
"Gambar apaan nih?" tanya ABG itu. Lengan Cimeng yang terbuka memperlihatkan tatto-tattonya yang sudah tak terhitung. Anak itu tertarik pada sebuah tatto yang baru dibuatnya dua hari lalu.
"Ini...," ia urung menjelaskan, "nurut elo gambar apa?"
"Bola naik perahu ya?" Cimeng hanya tersenyum atas jawaban si ABG.

Kios tatto di rumah sewanya baru sepi menjelang siang. Cimeng duduk terdiam, ia tiba-tiba merasa lelah sekali. Dihitungnya sudah berapa lama dia pergi dari rumah dan tak kembali. Ia hanya mengirimkan sesekali surat untuk rumahnya saja. Tapi dia tak pernah benar-benar tahu apa yang ingin ditulisnya. Ibunya selalu bertanya, kapan akan pulang. Semakin banyak tatto dan tindik yang dia buat di tubuhnya, semakin urung pula ia pulang. Walau kadang-kadang ingin.
*

Malam berikut saat buka puasa Qatrun menunjukkan gambar itu pada ibunya.
"Gambar apa ini? Ibu ndak ngerti."
"Ini gambar mimpiku, Bu."
"Mimpi apa?"
"Ini Muhammad," katanya menunjuk gambar lingkar berwarna kuning, "ini buroq, kendaraan saat Muhammad pergi ke langit ketujuh bersama malaikat."
"Kapan kamu mimpi ini?"
"Kemarin, waktu tidur siang."

Ibunya terharu, mengelus pelan rambut anaknya. Seperti biasa, Qatrun selalu pergi ke masjid untuk tarawih. Selesai tarawih kali itu pula ia tak langsung pulang. Ditunjukkannya gambarnya pada Ustaz dan beberapa teman lain. Ia jelaskan, gambar itu adalah Muhammad sedang naik buroq.
"Qatrun, hanya orang-orang terpilih yang bisa ditemui Muhammad di mimpinya," ujar Ustaz.
"Apakah itu berarti aku orang terpilih?"
"Kau yakin tak berbohong atas cerita mimpimu itu? Berbohong itu dosa." Teman-teman yang tadinya antusias mendengar cerita Qatrun bermimpi bertemu Muhammad, jadi terdiam. Memandang bergantian antara Qatrun dan Ustaz. Qatrun kecewa akan perkataan Ustaznya. Ia mengambil gambar itu.

Pergi dari surau dan tak pernah datang lagi untuk salat subuh, atau magrib, atau isya 
atau tarawih. Gambar itu diletakkan begitu saja di atas meja. Tak pernah ia menyentuhnya lagi, hingga gambar itu hilang entah ke mana. Qatrun sekarang lebih suka membuat bermacam-macam gambar di bukunya. Tak hanya buku gambar, tapi buku tulis sekolah juga jadi penuh gambar. Ia tak hanya menggambar gunung, sawah dan rumah kecil. Kini gambar-gambarnya jadi berragam dan makin rumit. Qatrun pun jadi pendiam, hingga suatu hari dia bercita-cita akan meninggalkan rumah jika sekolah selesai.
*

Kios tatto hari itu ditutup, rumah sewa juga tutup. Anak-anak punk dan ABG yang sering mangkal di situ heran karena rumah itu tiba-tiba tutup dan digembok. Cimeng pergi mematikan HP-nya setelah sebelumnya dia mengirimkan sebuah SMS ke seorang temannya. Gue mudik, bunyi SMS itu.

Ia tak percaya, kampung kecil itu dijejakkinya lagi. Ia tak yakin ibu dan teman-temannya masih mengenalinya setelah pergi dari kampung itu tujuh tahun yang lalu, mengingat begitu banyak tatto dan tindik di tubuhnya sekarang. Ia khawatir ibunya tak mengenalinya. Saat ia sampai dan mengetok-ngetok pintu, rumah kecil itu tak dikunci. Cimeng masuk tanpa permisi. Seorang perempuan paruh baya berjilbab tertidur di kursi panjang yang tak bisa disebut sofa dengan sebuah bantal tipis menyangga lehernya. Selembar kertas bergambar sebuah sampan berwarna hijau dan lingkaran kuning keemasan berada di dekapannya. Bertahun-tahun, dan anaknya tak pernah tahu bahwa ia masih menyimpan gambar itu. 
Ibu, Qatrun pulang.



Sumber: 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar